— 2 Mei 2017 ini, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Yayasan Ayo Lanjut Sekolah berulang tahun yang kedua. Apa yang kami kerjakan sungguh masih sederhana dan jauh dari sempurna. Namun dari segala keterbatasan itu, ijinkan tulisan ini menuturkan tetang apa yang kami cita-citakan dan kerjakan selama ini –

Teman-teman yang membaca tulisan ini, saya ingin menyapa anda dengan sebuah pertanyaan sederhana: pernahkah anda membaca sebuah novel, lalu di ujung cerita ketika halaman terakhir dituntaskan dan buku tersebut ditutup, anda masih terhenyak karena tak terima dengan akhir ceritanya? Jika pernah, novel apakah itu? Bagaimana ceritanya?

Kita pasti punya jawaban yang beragam, namun penyebab kita merasa sedih akan cerita itu rasanya kurang lebih sama: kita tak suka dengan ketidakadilan. Orang yang baik seharusnya mendapatkan nasib yang baik, dia yang bekerja keras selayaknya mendapatkan hasil yang setimpal. Bagi saya, cerita yang sampai sekarang membuat saya sebal adalah Laskar Pelangi. Kita semua familiar dengan konklusi novel legendaris itu, di mana Lintang, anak paling pintar di sekolah, yang datang paling pagi dan pulang paling sore, tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Saking membekasnya kisah itu, saya lalu memutuskan untuk menulis skripsi tentang Laskar Pelangi. Saya melakukan analisis karya sastra dengan pendekatan psikologi positif. Yang saya kaji bukan kisah sedih Lintang, tapi kisah Ikal meraih mimpi. Ya, selalu ada dua sisi dari sebuah cerita. Di mana kegelapan datang, di situ terang akan menyeruak.

Beberapa tahun setelah menulis karya ilmiah tentang Laskar Pelangi itu, saya mendapat kemewahan untuk ikut merasakan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak desa. Saya bergabung dengan Indonesia Mengajar dan ditugaskan untuk mengajar di sebuah desa kecil di Kepulauan Tanimbar. Di situ saya bertemu dengan banyak anak-anak yang punya cita-cita besar, persis seperti yang kita baca di Laskar Pelangi dulu. Satu yang paling menonjol bernama Nindy. Dia langganan juara kelas dan selalu dipercaya menjadi pemimpin. Selain menjadi ketua kelas, dia juga dengan percaya diri menjadi dirigen paduan suara, kapten baris berbaris dan juga juru bicara cerdas cermat.

Nindy mengingatkan saya tentang Lintang, bukan karena kecemerlangannya, namun karena keadaannya yang tidak jauh beda dengan kisah di novel tadi. Nindy adalah anak yatim yang mempunyai enam saudara. Ibunya harus membanting tulang sebagai petani rumput laut untuk menghidupi keluarga besarnya. Nindy, yang punya cita-cita tinggi menjelajah Negara-negara di dunia, bisa jadi tak pernah bisa meraih mimpinya, karena harus tenggelam dalam segala keterbatasan yang mengelilinginya.  Namun saya seketika sadar satu hal: Nindy bukan kisah fiksi di sebuah novel. Kisahnya terpampang nyata di depanku, dan karena itu saya punya kuasa untuk mengubah akhir cerita. Saya bisa berbuat sesuatu untuk memastikan dia tak berakhir seperti Lintang.

Saya bersyukur saat itu tinggal di desa tak bersinyal telepon. Saya tak bisa berkonsultasi dengan siapa pun kecuali dengan Yang Mahakuasa. Dalam keheningan doa, saya membulatkan hati untuk melakukan segala daya upaya untuk menyekolahkan Nindy ke tempat yang kondusif, untuk memastikan dia kelak bisa tumbuh sebesar bakat yang diberikan Tuhan kepadanya. Saya lalu meminta ijin kepada orang tuanya, dan ketika saya akhirnya berpamitan dengan warga desa di ujung tugas saya, saya membawa Nindy bersama saya. Dengan modal separuh iman dan separuh nekad, saya bulatkan tekad untuk ikut berkontribusi bagi pendidikan dengan membantu menyekolahkan anak ini. Satu anak saja, batinku, mestinya tak susah.

Puji Tuhan, pintu-pintu dibukakan untuk niatan sederhana ini. Semua dimulai dengan dukungan penuh dari Bu Wei, guru saya pada pelatihan Indonesia Mengajar dulu. Bu Wei meyakinkan bahwa rencana menyekolahkan Nindy ke kota adalah mungkin adanya, dan dia bahkan membantu mencarikan donator untuk Nindy. Setelah donaturnya ada, SMPK Cor Jesu di Malang juga menyatakan kesediaannya untuk menerima Nindy bersekolah dan tinggal di asrama di sana, tanpa tes masuk. Akhirnya, Nindy yang sebelumnya tak pernah meninggalkan desa kecilnya itu, terbang jauh ke Malang untuk melanjutkan pendidikannya.

Saya pikir, tugas saya telah berakhir dengan dimulainya sekolah Nindy di Malang. Ternyata, dunia punya rencana yang unik. Saya bertemu dengan dua rekan sesama alumni Indonesia Mengajar, Adi dan Syakur. Mereka punya cita-cita yang levelnya lebih tinggi dari saya: ingin membuat sebuah gerakan untuk menyekolahkan anak-anak cemerlang di desa-desa terpencil ke sekolah yang dekat dengan pusat kemajuan. Idenya, anak-anak desa ini dapat terekspos dengan lingkungan pendidikan yang kondusif dan kemajuannya bisa lebih pesat. Ide yang tidak lagi sederhana ini akhirnya kami ikutkan ke lomba Ausaid Social Innovator Award. ‘Sial’nya, walau tak menang, ide yang dinamakan Lanjut Sekolah ini terpilih sebagai satu dari sepuluh ide terbaik. Di titik ini saya pun memutuskan: akan memperjuangkan usaha untuk membuka kesempatan bagi ‘Nindy-Nindy’ yang lain.

Tahun demi tahun berjalan, semakin banyak teman-teman yang ikut berbaris dalam gerakan ini. Setelah ide ini diapresiasi oleh Apa Idemu Pertamina sebagai satu dari ide inovasi sosial terbaik, saya bertemu dengan Bu Lilik, Bu Agnes, dan rekan-rekan lain yang membantu saya untuk melembagakan Lanjut Sekolah. Dengan membuatnya sebagai sebuah yayasan, ada dua hal yang ingin dicapai: membuat niatan ini terus hidup, dan ingin menyampaikan pesan bahwa satu-satunya cara untuk menghidupkan sebuah gagasan adalah dengan mulai ambil tanggung jawab. Dan begitulah yang terjadi, empat tahun setelah bertemu dengan Nindy, Yayasan Ayo Lanjut Sekolah terbentuk.

Lantas, apa yang dicita-citakan dan dikerjakan Lanjut Sekolah?

Lanjut Sekolah mengajak anak-anak muda yang pernah punya pengalaman berinteraksi dengan anak di desa untuk memberanikan diri mengambil tanggung jawab lebih dengan menyekolahkan seorang anak cemerlang dari desa. Menyekolahkan bukan cuma tentang mencari pembiayaan, tapi juga dengan menjadi mentor. Menjadi ‘pengganti’ orang tua, menjadi orang yang mendampingi anak selama proses pendidikannya. Mentor harus hadir untuk memastikan sang anak tumbuh menjadi anak yang berwawasan global tapi tetap berakar pada asal mereka yang sederhana.

Lanjut Sekolah juga ingin mengajak teman-teman yang sehari-hari hidup di hiruk pikuk kota untuk ikut menjadi pendukung sang anak cemerlang yang sedang bersekolah di kota. Mendukung dapat dengan membantu biaya pendidikan ataupun dengan memfasilitasi sarana pembelajaran bagi sang anak.

Selain mengajak, Lanjut Sekolah juga ingin ikut bekerja. Karena itu kami ingin secara aktif membiayai persekolahan beberapa anak sesuai dengan kemampuan kami. Kami percaya, cara terbaik untuk mengajak orang lain ikut bekerja adalah dengan iut bekerja lebih dahulu.

Kami bermimpi, satu hari nanti kita akan menyaksikan Indonesia yang pemimpin-pemimpinnya dulunya dilahirkan dari desa-desa sederhana di pojok republik yang luas ini. Kehadiran mereka di panggung nasional akan menghidupkan mimpi anak-anak yang secara kebetulan dilahirkan di tengah hutan, di puncak gunung, ataupun di tepian pantai yang jauh dari kemajuan kota. Dan ketika hal ini hadir, semoga kita bisa merasakan Indonesia yang bersatu, yang nuansa persaudaraannya kental.

Dalam usaha mengejar cita-cita yang membumbung tinggi ini, kami sadar kontribusi kami masih jauh dari maksimal. Saat ini kami berkomitmen untuk menyekolahkan lima anak, dan secara aktif membangun jaringan dengan inisiatif serupa yang jumlahnya semakin banyak. Dan di tengah itu semua, saya pribadi bersyukur, dapat menjadi saksi hadirnya orang-orang biasa dengan hati yang tak biasa. Saya berterima kasih atas semua orang yang pernah mengulurkan tangannya untuk Lanjut Sekolah, tanpa perlu disebut satu per satu, anda tahu siapa anda 🙂

Bagi saya sendiri, saya tak pernah berhenti bersyukur untuk jalan yang digariskan Sang Pencipta ini. Dari dekat saya melihat betapa para anak Lanjut Sekolah: Nindy, Foni, Paska, Lini, Yando, dan anak-anak lainnya tumbuh menjadi anak desa yang dengan berani menatap masa depan. Ada yang berprestasi di sekolah, ada yang aktif di kompetisi seni dan olahraga, ada pula yang sedang mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke luar negeri.

Karena itulah, saya tak pernah berhenti untuk percaya sama ide ini. Dan untuk itu pulalah, di ulang tahun kedua dari organisasi yang sederhana ini, ijinkan saya untuk mengajak anda untuk ikut terlibat dalam gerakan ini. Gerakan yang bersumber dari sebuah ikhtiar sederhana. Ikhtiar untuk ikut berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, ikhtiar untuk ikut menulis masa depan Indonesia.

Salam,

Dedi K. Wijaya

(Co-Founder Yayasan Ayo Lanjut Sekolah)