Reportase : Paskalina Dogopia
Pelajar kelas XI IPS 1 di SMAK Cor Jesu Malang

SABANGMERAUKE (SM), program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia yang dihelat di Jakarta. Program ini digagas para pengajar muda Indonesia Mengajar (IM) pada 28 Oktober 2012 dengan tujuan memperkenalkan secara dalam tentang pendidikan, toleransi, dan ke-Indonesiaan.

SabangMerauke memiliki akronim yang dapat memotivasi anak-anak bangsa, yaitu Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali. Program ini diperuntukan bagi pelajar SMP se-Indonesia. Setiap anak yang diberangkatkan dari daerah masing-masing di Indonesia akan tinggal di Family SabangMerauke (FSM) yang beda etnis, agama, dan ras.

Selama di Jakarta saya menginap di rumah Pak Dino Pati Djalal yang  masih kerabat dengan Ibu Dini Djalal, ibu angkat saya di SM. Di sini, anak SM diajarkan bahwa toleransi itu tidak hanya diajarkan, toleransi itu harus dialami dan dirasakan.

Sebagai alumnus angkatan pertama, saya waktu itu siswa kelas 7 di SMP YPPK Santo Fransiskus Xaverius, Distrik Waghete. Akhirnya terpilih mewakili Provinsi Papua menjadi Duta Toleransi.

Pada angkatan pertama ini terpilih 10 anak Indonesia yang dinilai memiliki potensi luar biasa dan mencintai negaranya yang terbangun dari berbagai  pulau di Indonesia. Program ini berlangsung selama dua minggu, dari 14-28 Juli 2013 di Jakarta.

Selama dua minggu kami mengikuti bermacam kegiatan dengan agenda berbeda setiap harinya. Ada sport and fun day, nasionalism day, education day, religius and deversity day, culture day, career day, technology day, social and nature day, dan art day.

Dengan kegiatan tersebut kami diajak mengelilingi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mengikuti materi-materi dan games yang diadakan panitia.

Kami juga banyak mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang membuat kami semakin lebih termotivasi dan terinspirasi menjadi generasi penerus bangsa yang kreatif, inovatif, berani, dan cinta tanah air. Selama berkegiatan, kami ditemani Kakak SabangMerauke (KSM). Satu hal yang tak terlupakan, saya bisa selfie bareng Pak Ahok lho.

Ada kegiatan yang selalu saya kenang saat education day di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok. Di sana, kami harus membuat janji  dan janji tersebut ditanam di taman belakang Fakultas Ekonomi, UI.

Janji saya ialah akan melanjutkan kuliah di Jurusan Akuntasi UI, karena saya termotivasi ibu angkat saya di SM yang bekerja di World Bank. Usai mengikuti SM saya semakin berani dan cinta Indonesia.

Bukti konkret dari keberanian saya yaitu saya menulis surat terbuka kepada Pemerintah Kabupaten Deiyai yang saya baca di depan umat Gereja Santo Yohanes ketika sekolah tempat saya belajar disegel warga adat pemilik karena sewa tanah belum dibayar Pemkab. Akhirnya sekolah itu dibuka setelah para umat meyakinkan pemilik tanah pentingnya pendidikan.

Saya berharap apa yang sudah yang buat dapat menginspirasi anak muda di daerah lain agar mencintai dan menghargai toleransi. Indonesia itu kaya akan keragaman suku bangsa yang tidak dimiliki negara lain, kita harus saling menghargai dan menjunjung tinggi nilai toleransi.